cekidot moms…good inpoh..:)

Copas email nya dr. Endah di milis sehat, semoga bermanfaat.

TIME WILL HEAL

Dear smart parents,
Sibuk mencari sesuatu cara untuk ‘do something’ saat anak batuk pilek?
Obat katanya gak boleh. Nebulizer kan cuma buat anak asma. Gemes
kaaan, kalo gak bisa melakukan sesuatu? Kesannya menelantarkan anak?
Aha! Meluncurlah ke apotik beli breathy, beli transpulmin BB – obat batpil
gak dibeli tapi tetap aja beli ‘sesuatu’.
Gak cukup sampai di situ, masak air mendidih lalu diuapkan ke anak kita.
Kesemua itu gak perlu. Hal terpenting dari perlawanan terhadap virus
adalah daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh dapat disokong oleh istirahat
yang cukup (siapkan fisik untuk menggendong anak yang super rewel ya),
makanan (bujuk – dan bukan paksa – anak untuk makan, 1-2 sendok
secara berkala sudah lumayan banget), dan yang sangat penting: cairan!
Telateni untuk memberi minum pada anak. Bayi ASI perlu disusui lebih
sering. Sering lepas2 karena mampet? Perah ASInya lalu sendoki. Sisanya?
Time will heal.
Berkali2 saya menemukan anak yang mengalami reaksi alergi terhadap
balsam. Tersering akibat diberikan bawang. Ortu panik, dikira campak.
Padahal dermatitis kontak.
Yang menyedihkan, sudah dua kali menemukan kasus anak luka bakar
akibat ‘terapi uap’. Yang pertama karena anak tidak bisa diam, meronta,
ember berisi air panas tertendang dan airnya menciprati badannya. Kasus
kedua, memasang magic jar di kamar tidur spy mengeluarkan uap air
panas, lalu ditinggal tidur. Anaknya sudah bs turun sendiri, lalu
memainkan magic jar tadi, melepuhlah kulit tangan sampai mukanya.
Sedih sekali melihatnya.
Satu2nya yang aman dan efektif yang perlu diberikan ke anak yang batuk
pilek cuma minum yang banyak. Gak perlu ya perintilan2 ‘home
treatment’. Siapkan stok sabar. Observasi tanda2 bahaya. Sisanya,
serahkan pada tubuh anak. Sekali lagi, time will heal. Badai pasti berlalu.
Maaf jika tidak berkenan,
Endah

Advertisements

“Pelit” Obat…Kenapa??

Siang ini dapet kiriman email dari suami dan menyuruh untuk dibaca!…dan ternyata memang Good Article…kudu baca nih bunda-bunda…semoga bisa memberikan pencerahan…:)

Alasan Dokter Negara Maju “Pelit” Memberikan Obat ke Anak

Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see?” batinku meradang.
Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

Continue reading

Ibu Profesional….Can I?

Baru saja saya membaca satu artikel yang menarik di mommiesdaily judulnya “Cerita Ibu Profesional”…waah saluut banget deh sama ibu Septi ini…Juaraaa banget, baca dari awal yang keluar dari mulut saya adalah kata “wah..wow..hebat”…gimana tidak beliau dengan ikhlas mencopot baju dinas nya demi keluarganya…jadi sedikit tersentil juga oleh keberanian beliau yang mana  kebetulan saya juga seorang WM yang memiliki eSKa pegawai …*sigh*..can i to be like her?…it’s seems hard to do for me…dari WM menjadi SAHM…dilemaa tingkat dewa..(I_I), kedengerannya mustahil yaa, tapii beliau berhasilll…liat aja anak-anaknya pun prestasinya cukup bersinar padahal mereka tidak menempuh jalur sekolah pada umumnya….*prok…prok..prok*

Untuk menjadi “Ibu Profesional” seperti beliau sepertinya belum bisa saya lakukan*cemen*, karena banyak pertimbangan pastinya, dulu sebelum menikah pernah sih dihadapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja oleh suami, tapi saya tetap memilih untuk bekerja alasannya karena saya merasa perlu aktualisasi diri, sayang dengan ijasah pendidikan saya (egois yah?*minta dikeplak*), keliatannya sih ehois, tapi sisi positifnya maksud saya sebenernya sih yah melihat perkembangan jaman saat ini saya ingin membantu suami dalam hal finansial keluarga dengan harapan  kebutuhan tercukupi (rumah,pendidikan anak,dll), mengingat juga inflasi setiap tahunnya di Indonesia yang cukup tinggi.

Tapi seiring berjalannya waktu setelah menikah dan akhirnya saya dikaruniai seorang anak, kemudian barulah ketika cuti melahirkan akan habis ngerasain tuh sedihnya mau ninggalin anak tanpa ada saya disampingnya…gilee ya padahal baru 3 bulan ((plus 9 bulan sih dikandungan) tapi rasanyaa hati ini ga rela, mungkin karena kekuatan ASI juga jadi makin membuat bonding saya dengan bayi saya sangat kuat, tapi ibu mana jg pasti merasakan hal yang sama.Walaupun awal-awal saya mengalami masa dimana saya stress menghadapi bayi atau lebih sering dikenal baby blues tapi naluri keibuan saya lebih besar, saya ingin sekali ada disampingnya dan keinginan kembali bekerja itu sangat kecil, i’m falling in love with her!

Begitu waktunya pun tiba tetap saja saya harus tetap kembali bekerja:(..(DL lo the terima konsekuensinya to be a WM)…yess dengan berat hati dan mata berkaca-kaca saya berangkat juga bekerja tapi didalam hati saya bertekad untuk tetap menjadi sosok ibu yang baik buat Adiva. Dimulai dari sinilah saya berusaha untuk memanajemen waktu antara kantor dan rumah. Alhamdulillah sampai sekarang saya mencoba untuk terus memprioritaskan anak saya meski saya bekerja.

Jadwal Sehari-hari saya saat ini :

04.00 – 05.00    :    Bangun tidur langsung pumping sebentar lalu menyiapkan MPASI Adiva

05.00 – 05.30    :    Mandi,Sholat,menyiapkan air hangat untuk mandi dan perlengkapan Adiva (karena saya menitipkan Adiva di rumah ortu)

05.30 – 06.15    :    Mandiin Adiva, membereskan tempat tidur, rapih-rapih rumah sebentar lalu siap berangkat dengan si ayah

06.35 – 07.00    :   Sampai rumah ortu, give breastfeed Adiva dan main-main sebentar trus siap-siap berangkat ke kantor, ayahnya juga berangkat

07.05 – 16.00    :   sampai kantor,bekerja dan diselingi pumping 1-2x (sering pulang sebentar pada jam istirahat untuk jadi kurir Asi)

16.30 –  19.00   :    sampai rumah dan main sama adiva sampai nanti ayahnya pulang kantor dan pulang ke rumah kami

19.00 – 04.00   :    sampai rumah masih main lagi sm Adiva sampai tidur (biasanya min. jam 8 or max jam 10 harus udh tidur)..

yah begitulah sekilas kegiatan yang sebisa mungkin dihabiskan bersama Adiva, kalaupun sabtu minggu ada acara biasanya Adiva tetap harus diajak kalo kondisinya pun mendukung. Memang masih jauh ya dari profesional apalagi melihat misi dari Ibu Profesional dibawah ini yang saya ambil dari artikel mommiesdaily tersebut atau bisa liat di http://www.ibuprofesional.org atau bisa juga follow twitternya @ibuprofesional:

Apa misi Ibu Profesional?

  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak­-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-­anaknya.
  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  • Meningkatkan rasa percaya diri sang ibu, sehingga tetap bisa mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
  • Meningkatkan peran ibu menjadi Agent of Change (agen pembawa perubahan) yang senantiasa akan berbagi dan menularkan virus perubahan kepada masyarakat

Siapa sih yang ngga mau jadi ibu seperti itu?…siapapun pasti mau kan bun…(^_^)

Be Professional, Rezeki will follow seperti yang dikatakan beliau…kalo mengenai rezeki akan datang dengan sendirinya memang semua kembali lagi kepada Allah yang Maha Pemberi Segalanya, cuma rasanya untuk saya saat ini masih ada beberapa hal yang harus saya wujudkan bersama suami untuk keluarga dan anak(-anak) saya, tapi dari double income jadi single income kayaknya masih perlu beberapa persiapan dan banyak pertimbangan pasti…mungkin saja suatu saat nanti saya berubah fikiran dan punya kekuatan besar seperti beliau…who knows??….kali aja suami saya jadi milyuner  Aamiiin hahahaa*lebay*.yah setiap orang punya pilihan masing-masing dalam hidupnya begitu pula dengan cara mendidik anak-anaknya, jadi sepertinya menjadi Ibu Profesional seperti Ibu Septi belum bisa saya lakukan seutuhnya, saat ini saya hanya ingin berusaha memberikan yang terbaik buat anak dan tetap profesional dengan cara saya meski belum sempurna…

Bagaimana dengan kamu, siapkah untuk menjadi “Ibu Profesional”??