Ibu Profesional….Can I?

Baru saja saya membaca satu artikel yang menarik di mommiesdaily judulnya “Cerita Ibu Profesional”…waah saluut banget deh sama ibu Septi ini…Juaraaa banget, baca dari awal yang keluar dari mulut saya adalah kata “wah..wow..hebat”…gimana tidak beliau dengan ikhlas mencopot baju dinas nya demi keluarganya…jadi sedikit tersentil juga oleh keberanian beliau yang mana  kebetulan saya juga seorang WM yang memiliki eSKa pegawai …*sigh*..can i to be like her?…it’s seems hard to do for me…dari WM menjadi SAHM…dilemaa tingkat dewa..(I_I), kedengerannya mustahil yaa, tapii beliau berhasilll…liat aja anak-anaknya pun prestasinya cukup bersinar padahal mereka tidak menempuh jalur sekolah pada umumnya….*prok…prok..prok*

Untuk menjadi “Ibu Profesional” seperti beliau sepertinya belum bisa saya lakukan*cemen*, karena banyak pertimbangan pastinya, dulu sebelum menikah pernah sih dihadapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja oleh suami, tapi saya tetap memilih untuk bekerja alasannya karena saya merasa perlu aktualisasi diri, sayang dengan ijasah pendidikan saya (egois yah?*minta dikeplak*), keliatannya sih ehois, tapi sisi positifnya maksud saya sebenernya sih yah melihat perkembangan jaman saat ini saya ingin membantu suami dalam hal finansial keluarga dengan harapan  kebutuhan tercukupi (rumah,pendidikan anak,dll), mengingat juga inflasi setiap tahunnya di Indonesia yang cukup tinggi.

Tapi seiring berjalannya waktu setelah menikah dan akhirnya saya dikaruniai seorang anak, kemudian barulah ketika cuti melahirkan akan habis ngerasain tuh sedihnya mau ninggalin anak tanpa ada saya disampingnya…gilee ya padahal baru 3 bulan ((plus 9 bulan sih dikandungan) tapi rasanyaa hati ini ga rela, mungkin karena kekuatan ASI juga jadi makin membuat bonding saya dengan bayi saya sangat kuat, tapi ibu mana jg pasti merasakan hal yang sama.Walaupun awal-awal saya mengalami masa dimana saya stress menghadapi bayi atau lebih sering dikenal baby blues tapi naluri keibuan saya lebih besar, saya ingin sekali ada disampingnya dan keinginan kembali bekerja itu sangat kecil, i’m falling in love with her!

Begitu waktunya pun tiba tetap saja saya harus tetap kembali bekerja:(..(DL lo the terima konsekuensinya to be a WM)…yess dengan berat hati dan mata berkaca-kaca saya berangkat juga bekerja tapi didalam hati saya bertekad untuk tetap menjadi sosok ibu yang baik buat Adiva. Dimulai dari sinilah saya berusaha untuk memanajemen waktu antara kantor dan rumah. Alhamdulillah sampai sekarang saya mencoba untuk terus memprioritaskan anak saya meski saya bekerja.

Jadwal Sehari-hari saya saat ini :

04.00 – 05.00    :    Bangun tidur langsung pumping sebentar lalu menyiapkan MPASI Adiva

05.00 – 05.30    :    Mandi,Sholat,menyiapkan air hangat untuk mandi dan perlengkapan Adiva (karena saya menitipkan Adiva di rumah ortu)

05.30 – 06.15    :    Mandiin Adiva, membereskan tempat tidur, rapih-rapih rumah sebentar lalu siap berangkat dengan si ayah

06.35 – 07.00    :   Sampai rumah ortu, give breastfeed Adiva dan main-main sebentar trus siap-siap berangkat ke kantor, ayahnya juga berangkat

07.05 – 16.00    :   sampai kantor,bekerja dan diselingi pumping 1-2x (sering pulang sebentar pada jam istirahat untuk jadi kurir Asi)

16.30 –  19.00   :    sampai rumah dan main sama adiva sampai nanti ayahnya pulang kantor dan pulang ke rumah kami

19.00 – 04.00   :    sampai rumah masih main lagi sm Adiva sampai tidur (biasanya min. jam 8 or max jam 10 harus udh tidur)..

yah begitulah sekilas kegiatan yang sebisa mungkin dihabiskan bersama Adiva, kalaupun sabtu minggu ada acara biasanya Adiva tetap harus diajak kalo kondisinya pun mendukung. Memang masih jauh ya dari profesional apalagi melihat misi dari Ibu Profesional dibawah ini yang saya ambil dari artikel mommiesdaily tersebut atau bisa liat di http://www.ibuprofesional.org atau bisa juga follow twitternya @ibuprofesional:

Apa misi Ibu Profesional?

  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak­-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-­anaknya.
  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  • Meningkatkan rasa percaya diri sang ibu, sehingga tetap bisa mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
  • Meningkatkan peran ibu menjadi Agent of Change (agen pembawa perubahan) yang senantiasa akan berbagi dan menularkan virus perubahan kepada masyarakat

Siapa sih yang ngga mau jadi ibu seperti itu?…siapapun pasti mau kan bun…(^_^)

Be Professional, Rezeki will follow seperti yang dikatakan beliau…kalo mengenai rezeki akan datang dengan sendirinya memang semua kembali lagi kepada Allah yang Maha Pemberi Segalanya, cuma rasanya untuk saya saat ini masih ada beberapa hal yang harus saya wujudkan bersama suami untuk keluarga dan anak(-anak) saya, tapi dari double income jadi single income kayaknya masih perlu beberapa persiapan dan banyak pertimbangan pasti…mungkin saja suatu saat nanti saya berubah fikiran dan punya kekuatan besar seperti beliau…who knows??….kali aja suami saya jadi milyuner  Aamiiin hahahaa*lebay*.yah setiap orang punya pilihan masing-masing dalam hidupnya begitu pula dengan cara mendidik anak-anaknya, jadi sepertinya menjadi Ibu Profesional seperti Ibu Septi belum bisa saya lakukan seutuhnya, saat ini saya hanya ingin berusaha memberikan yang terbaik buat anak dan tetap profesional dengan cara saya meski belum sempurna…

Bagaimana dengan kamu, siapkah untuk menjadi “Ibu Profesional”??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s